Potongan kayu yang sudah diolah di kawasan sumber mata air Desa Simaninggir.
TAPANULI TENGAH - Warga Desa Simaninggir, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, mengaku resah akibat adanya aktivitas penebangan kayu di daerahnya. Warga takut bencana longsor lebih besar dari yang biasa akan terjadi, mengingat daerah itu adalah kawasan rawan longsor.
Bencana longsor yang menelan korban jiwa pernah terjadi di Simaninggir tahun 1990. Saat itu, puluhan jiwa tewas setelah terjatuh kedalam jurang sedalam 250 meter bersama kendaraan yang mereka tumpangi akibat terdorong material tanah dan batu.
Aktivitas penebangan kayu dikawasan hutan di Simaninggir ini disampaikan langsung oleh warga kepada palapapos.co.id
Warga juga menemukan potongan kayu yang sudah diolah di kawasan sumber mata air yang mereka gunakan sebagai sumber air bersih sehari-hari. Mereka mengabadikan tumpukan kayu temuannya dalam bentuk foto dan video berdurasi dua menit.
“Kami meminta agar para awak pers mempublikasikan penebangan liar ini. Sebab kami sangat resah," tutur seorang warga berinisial S.
Selain merusak lingkungan, lanjut dia, penebangan liar juga berpengaruh pada sumber mata air yang sangat dibutuhkan penduduk.
Sementara itu, pihak Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, yang dicoba dikonfirmasi melalui Kepala Kantor UPT KPH, (Kesatuan Pengelolaan Hutan) yang berada di Jalan Oswald Siahaan, Kecamatan Pandan, tidak berhasil.
Kepala Kantor UPT KPH Wilayah X Pandan, H Situmeang juga tidak berhasil dikonfirmasi terkait aktivitas penebangan liar di wilayah kerjanya.
Salah seorang Staf yang ditemui menjelaskan bahwa pimpinan mereka sedang tugas luar.
"Kepala kantor sedang tugas luar. Staf yang berkompeten memberikan keterangan, juga tugas luar. Kalau kami hanya pegawai honorer," tandas seorang staf.
Penulis: Ferry Sitohang
Editor: Jay





Comments
Leave a Comment