Rumah Sakit Primaya Bekasi Utara
BEKASI - Pasien rumah sakit Primaya Bekasi Utara yang berinisial H dinyatakan meninggal setelah terkonfirmasi positif covid-19. Anak dari pasien H sampai saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan rumah sakit.
Anak pasien, Deasy Rickawati mengaku sampai saat ini masih mencari kebenaran soal ibu nya yang meninggal di Rumah Sakit Primaya Bekasi Utara yang dinyatakan positif covid-19.
"Ibu saya awalnya masuk RS lantaran jatuh dari kamar mandi, ditambah memiliki riwayat penyakit jantung dan diabetes. Setelah ibunya kehilangan nafsu makan selepas jatuh di kamar mandi, namun kondisi fisiknya masih baik-baik saja. Ibu saya tidak bisa di rawat di RS Persahabatan yang selama ini menjadi rujukan lantaran pada saat pandemi dikhususkan untuk merawat pasien Covid-19,"ungkapnya Rabu, (16/6/2021).
Diketahui, Pemeriksaan rapid tes antigen menunjukkan hasil negatif, dan ibunya tidak bisa dirawat di RS Persahabatan. Akhirnya keluarga pasien membawanya ke RS Primaya Hospital Bekasi Utara untuk mendapatkan perawatan.
Keluarga pasien membawa pasien dalam keadaan fisik masih bisa berjalan tanpa alat bantu. Saat ingin memeriksa kesehatan pasien, salah satu dokter RS Primaya memberikan keterangan pasien harus di rawat inap untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh.
"Akhirnya kami setuju untuk dirawat. Nah saya bawa obat-obatan yang sebelumnya mamah saya ambil dari RS Persahabatan, karena kan kontrol rutin disana. Ibu saya mulai dirawat 30 Desember 2020, dan saya memberi tahu obat-obatan yang biasa dikonsumsi oleh ibu. RS Primaya Hospital Bekasi Utara pun meminta rekam medis ibu saya kepada RS Persahabatan. Namun sayang, dokter yang menangani ibu saya nampak acuh,"katanya.
Hari selanjutnya pasien dirawat, dilakukan swab tes pukul 12:00 WIB, malam harinya keluarga diberi kabar ibunya terkonfirmasi positif Covid-19. Yang membuat keluarga janggal, pasien masih berada di ruang IGD dengan pasien lain, tidak segera dipindah ke ruang isolasi jika memang terkonfirmasi positif covid. Dokter dan perawat yang menangani pun tidak menggunakan APD lengkap.
Pasca hasil lab keluar dan dinyatakan Covid-19, salah satu anggota keluarga masih diizinkan untuk menunggu pasien 24 jam.
"Nah disitu kita sudah curiga. Kok kalau orang Covid-19 abis periksa mamah saya langsung periksa orang lain, apa iyah dibolehkan?. Kabar duka disampaikan rumah sakit pukul 06:00 WIB dalam keadaan sudah berada di ruang isolasi. Kejanggalan lain menyusul saat saya meminta foto jenazah, dokter memfoto tanpa mengenakan APD, hanya menggunakan masker,”tambah si anak pasien.
Tidak cukup dengan itu, keluarga juga berusaha untuk meminta hasil lab pasien dari salah satu laboratorium di Jakarta Selatan dan RS Primaya Hospital Bekasi Timur. Keterangan yang didapatkan keluarga bahwa tidak riwayat pemeriksaan atas nama pasien. Keluarga diizinkan ikut dalam prosesi pemakaman di TPU Tegal Alur dari jarak dekat, beberapa petugas nampak tidak menggunakan APD, keluarga pasien juga dikenakan biaya Rp6 juta.
"Prosedur Covid kita nggak ada sama sekali, kaya yang jarak 1 meter, pakai APD lengkap, itu nggak ada. Boleh (ikut dalam prosesi pemakaman), malah sampai ke liar lahatnya, saya sampai bisa videoin petinya itu turun dan lain-lain, itu masih bisa. Bahkan jenazah Ibu saya dibungkus menggunakan kantong plastik limbah medis, dan diakui oleh pihak rumah sakit pada salah satu pertemuan, dengan alasan persediaan kantong mayat habis," tandasnya.
Terpisah, Kepala Divisi Marketing RS Primaya Hospital Bekasi Utara, Joko Mulyono mengatakan, bahwa ia belum menerima hasil terbaru rapat internal yang dilakukan oleh RS.
"Ini belum dapat updatenya, dan ini juga sudah diarahin dari Marcomnya Corporate, nanti saya coba telusur dulu ya,"tutupnya singkat.
Penulis : Yudha
Editor : Benys





Comments
Leave a Comment