Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ), Rachmi Hertanti. PALAPAPOS/Istimewa

JAKARTA - Pemerintah perlu untuk meninggalkan perdagangan yang mengandalkan komoditas bahan mentah dalam rangka menambah nilai ekspor sehingga mampu menyehatkan neraca perdagangan nasional.

"Kami mendesak agar agenda diplomasi perdagangan Indonesia yang berbasis komoditas bahan mentah harus segera dibatasi atau bahkan ditinggalkan dan memperkuat dengan kinerja perdagangan yang bernilai tambah," kata Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ), Rachmi Hertanti, Jumat (1/2/2019).

Menurut dia, tekanan ekonomi global akibat praktek proteksionisme harus dijadikan Indonesia sebagai momentum untuk mengukur kembali kekuatan perdagangan nasional. Berdasarkan data IGJ, hingga saat ini kontribusi komoditas ekstraktif pada perdagangan Indonesia masih didominasi batubara dan sawit yang masing-masing adalah 15,12 persen dan 12,51 persen.

Kemudian, lanjutnya, disusul sektor besi-baja dan logam masing-masing 3,54 persen dan 3,23 persen dari total ekspor. "Di tengah tantangan global hari ini, Indonesia akan kesulitan meningkatkan ekspornya dengan bergantung pada komoditas ekstraktif," ucapnya.

Ia berpendapat, bahwa ketergantungan perdagangan pada komoditas ekstraktif telah berdampak terhadap tingginya penggunaan produk impor dan memperkuat proses deindustrialisasi di Indonesia. Hal tersebut terbukti, menurut Rachmi, dengan pelemahan rupiah pada tahun 2018 yang dinilai tidak mampu digunakan Indonesia untuk meningkatkan ekspor, tetapi justru semakin membuat ekonomi nasional terpuruk akibat meningkatnya impor yang mempengaruhi defisit transaksi berjalan yang terjadi di sepanjang kuartal II dan III 2018. 

Selain itu, IGJ berpandangan akibat dari pemusatan kinerja perdagangan Indonesia pada komoditas mentah, khususnya sawit dan batubara, juga berdampak terhadap memburuknya praktek monopoli di sektor ini dan semakin mengakumulasi kerugian yang diderita masyarakat, yaitu pelanggaran pajak dan pelanggaran HAM, seperti dalam konteks kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan konflik lahan.

"Saatnya melakukan substitusi impor dan memperkuat produk lokal dalam seluruh kegiatan perekonomian nasional. Sehingga satu-satunya strategi yang tepat adalah dengan industrialisasi," tegas Rachmi. 

Sebelumnya, Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro mengingatkan pentingnya pengembangan industri pengolahan yang bernilai tambah agar kinerja ekspor Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada komoditas. "Perlu ada 'review' kebijakan secara lebih komprehensif untuk mengembangkan industri ekspor 'value-added' dalam negeri," kata Satria Sambijantoro.

Satria menjelaskan upaya untuk mengurangi ekspor komoditas yang porsinya mencapai hampir 30 persen dari total ekspor Indonesia sangat penting, agar ekspor tidak lagi rentan terhadap perlambatan ekonomi yang terjadi di negara mitra dagang utama seperti China.

"Struktur ekspor yang bergantung pada komoditas membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap perlambatan global, terutama di China yang mengonsumsi banyak ekspor komoditas kita seperti batubara dan bahan tambang," katanya. (ant)

Comments

Leave a Comment

Berita Lainnya

Perseroda Akui Setor Deviden Tahun 2022 Sebesar 300 Juta

KOTA BEKASI - PT. Minyak dan Gas Bumi (Perseroda) hari ini, Kamis (6/4/2023) mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atas kinerja Tahun Anggaran 2022 dihadiri oleh Plt. Wa

Era Transaksi Digital, Satika Minta Pelaku UMKM Taput Jaga Branding

TAPANULI UTARA - PT Bank Sumut Cabang Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) menggelar sosialisasi produk perbankan dan sekaligus menyerahan Quick Response Code Indonesia

Electrolux Showroom dan Service Center Hadir di Kota Bekasi

BEKASI - Memberikan kenyamanan kepada konsumen, Electrolux Showroom dan Service Center hadir di Kota Bekasi.  Dipastika kehadirannya untuk konsumen setelah diresmikan kan

Harga Minyak Goreng Belum Stabil, Wakil Gubernur Jawa Barat Sidak Di Kota Bekasi

BEKASI - Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar), UU Ruzhanul Ulum lakukan Inspeksi mendadak (Sidak) pasar di Kota Bekasi memantau harga minyak goreng yang belum lama mencapai Rp 20

Mampu Pulihkan Ekonomi, Bupati Taput Dapat Penghargaan dari BI

TAPANULI UTARA - Dinilai mampu mengatasi keterpurukan dan mampu memulihkan ekonomi ditengah Pandemi Covid-19, Bupati Taput Nikson Nababan mendapat penghargaan program Klaster K

Bank Dunia Suntik Indonesia Rp5,6 Triliun

JAKARTA - Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pendanaan sebesar 400 juta dolar AS atau sekitar Rp5,6 triliun untuk mengatasi kerentanan keuangan akibat dampak pandemi Covid-19.