Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Fajar B. Hirawan. PALAPA POS/Istimewa

JAKARTA - Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar B. Hirawan optimistis aksi unjuk rasa mahasiswa di beberapa kota di Tanah Air termasuk di Jakarta beberapa waktu lalu tidak akan berpengaruh signifikan terhadap ekonomi RI.

"Hingar bingar politik seperti ini pun bukan kali pertama terjadi di Republik ini dalam kurun waktu satu tahun terakhir," katanya dihubungi di Jakarta, Jumat (27/9/2019).

Sebagai negara yang menganut paham demokrasi, kata dia, Indonesia sudah selayaknya terbiasa dengan aksi-aksi unjuk rasa apalagi ada payung hukum terkait kebebasan berpendapat di tempat umum.

Menurut dia, kondisi seperti itu sudah menjadi pemandangan lumrah bagi para pengusaha dan investor. Terkait mata uang Rupiah yang melemah, lanjut dia, masih dalam batas wajar dan tidak perlu dikhawatirkan

"Dalam hal ini, BI tidak perlu melakukan tindakan apa pun karena untuk menarik investasi, BI telah menurunkan suku bunga acuan," imbuhnya.

BI telah menurunkan BI seven days reverse repo rate sebesar 25 basis poin dari 5,50 menjadi 5,25 persen.

Sebelumnya, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (25/9/2019) masih melanjutkan pelemahan pascaaksi demonstrasi mahasiswa Selasa (24/9/2019).

Saat itu, rupiah sempat melemah 21 poin atau 0,15 persen menjadi Rp14.135 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.114 per dolar AS.

Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu (25/9/2019) menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp14.134 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.099 per dolar AS.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengharapkan situasi dan stabilitas politik Indonesia segera pulih menyusul aksi unjuk rasa mahasiswa di depan gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta.

"Saya berharap hal yang menjadi pemicu bisa dibahas melalui proses-proses politik yang ada sehingga tidak menimbulkan dampak atau sentimen yang lebih luas," katanya usai memaparkan APBN 2020 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta, Selasa (25/9/2019).

Menurut dia, Indonesia memiliki momentum yang baik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi meski ada ancaman resesi yang dihadapi sejumlah negara termasuk perang dagang.

Momentum tersebut, lanjut dia, di antaranya penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) dan diikuti penurunan suku bunga acuan BI. (ant)

Comments

Leave a Comment

Berita Lainnya

Perseroda Akui Setor Deviden Tahun 2022 Sebesar 300 Juta

KOTA BEKASI - PT. Minyak dan Gas Bumi (Perseroda) hari ini, Kamis (6/4/2023) mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atas kinerja Tahun Anggaran 2022 dihadiri oleh Plt. Wa

Era Transaksi Digital, Satika Minta Pelaku UMKM Taput Jaga Branding

TAPANULI UTARA - PT Bank Sumut Cabang Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) menggelar sosialisasi produk perbankan dan sekaligus menyerahan Quick Response Code Indonesia

Electrolux Showroom dan Service Center Hadir di Kota Bekasi

BEKASI - Memberikan kenyamanan kepada konsumen, Electrolux Showroom dan Service Center hadir di Kota Bekasi.  Dipastika kehadirannya untuk konsumen setelah diresmikan kan

Harga Minyak Goreng Belum Stabil, Wakil Gubernur Jawa Barat Sidak Di Kota Bekasi

BEKASI - Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar), UU Ruzhanul Ulum lakukan Inspeksi mendadak (Sidak) pasar di Kota Bekasi memantau harga minyak goreng yang belum lama mencapai Rp 20

Mampu Pulihkan Ekonomi, Bupati Taput Dapat Penghargaan dari BI

TAPANULI UTARA - Dinilai mampu mengatasi keterpurukan dan mampu memulihkan ekonomi ditengah Pandemi Covid-19, Bupati Taput Nikson Nababan mendapat penghargaan program Klaster K

Bank Dunia Suntik Indonesia Rp5,6 Triliun

JAKARTA - Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pendanaan sebesar 400 juta dolar AS atau sekitar Rp5,6 triliun untuk mengatasi kerentanan keuangan akibat dampak pandemi Covid-19.