Bupati Taput Nikson Nababan. PALAPAPOS/Alpon Situmorang
TAPANULI UTARA - Dari Filosofi ‘Anakkon Ki Do Hamoraon Di Au’ hingga sejarah DR. IL. Nomensen serta demi pertumbuhan ekonomi baru di Tapanuli Raya ditransformasikan Bupati Taput Nikson Nababan untuk pendirian Universitas Negeri.
Hadirnya Universitas Negeri di Tapanuli Raya terus didengungkan Bupati Taput sebagai solusi untuk Tapanuli Utara lebih maju dan sejahtera. Leletnya perkembangan perekonomian di Tapanuli Utara disebabkan banyak faktor menjadi sebuah perenungan baginya untuk terus memperjuangkan berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Utara.
“Berangkat dari filosofi orang Batak ‘Anakkonki Do Hamoraon Di Au’, saya memahami betul karakter dan budaya orang Batak. Dimana kondisi paling tepuruk pun sebuah rumah tangga orang Batak akan tetap mengupayakan anaknya sekolah, minimal satu orang harus sampai menginjak pendidikan hingga perguruan tinggi dan menggapai gelar sarjana," kata Bupati Nikson Nababan kepada palapapos.co.id, Selasa (29/9/2020).
Dari filosofi itu, sebut Nikson menganggap sebagai anak-anak bangsa sudah tumbuh sebagai generasi penerus harus melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi yang sebelumnya telah dimerdekakan Missionaris DR. IL. Nomensen di Tapanuli Raya.
“Kita akui, Tuhan telah memilih Nomensen dalam konteks kekristenan. Akan tetapi pada hakekatnya, tugas sebenarnya yang diemban Nomensen itu melepas orang Batak dari kebodohan, ortodoks dan Hadatuaon. Seandainya kalau usia Nomensen hingga 500 tahun, barangkali sampai Universitas Negeri pasti didirikan di Tapanuli Utara. Tapi umur Nomensen tidak sampai segitu, maka kitalah yang akan meneruskan perjuangan dan cita-cita Nomensen itu, bagaimana melepaskan kita dari kebodohan dan kemiskinan,” ungkap Nikson Nababan.
Dikatakannya, semua sudah orang-orang pintar, orang-orang yang sudah maju dalam konteks ilmu pengetahuan, tapi belum lepas dari peta kemiskinan.
“Satu hal yang harus kita pahami, triger pembangunan ekonomi ada pada sekolah dalam konteks Tapanuli Raya yang sifatnya umum. Maka itulah mendasari saya, kenapa mereka bisa, kita tidak bisa mewujudkan mimpi itu," kata Bupati.
Poin kedua sebut Bupati, juga harus belajar dari perkataan orang-orang pintar, bahwa kalau ingin maju sebuah daerah, maka belajarlah dari sejarah.
“Sejarah yang saya maksud itu adalah filosofi dari leluhur orang Batak dan cita-cita Nomensen. Maka ada yang belum sempurna, yaitu pendidikan yang dilakukan Nomensen itu bagaimana sampai ketingkat yang lebih tinggi harus ada di Tapanuli Raya. Untuk mewujudkan itu bukanlah hal yang gampang, tentu banyak tantangan, rintangan dan butuh pengorbanan. Juga mengharapkan dukungan dari Pemerintah Daerah di Tapanuli Raya, Stakeholders dan unsur elemen masyarakat lainnya. Berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Raya dengan mentransformasi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) menjadi sebuah Universitas Negeri harus kita pahami secara bijkasana,” urainya.
Nikson menambahkan rencana besar tersebut tinggal mengaktualisasi melalui sebuah dokumen, bagaimana dokumen itu tertata dengan rapi didalamnya sudah dimuat keinginan masyarakat, kajian dan analisa serta dukungan-dukungan dari berbagai elemen, ormas, tokoh agama, tokoh adat dan organisasi kemahasiswaan, termasuk dukungan dari petinggi di Republik Indonesia termasuk penentu kebijakan yaitu Presiden Jokowi.
Terlebih lagi diakuinya, sudah mengantongi dua dukungan pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya (UNTARA) dari dua lembaga tertinggi dan tinggi negara yaitu dukungan dari Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat kunker ke Tapanuli Utara pada 28 Februari 2020. Dan dukungan dari Ketua DPD RI AA La Nyala Mahmud Mattalitti saat kunker ke Tapanuli Utara selama dua hari (17-18/9/2020).
“Tinggal menunggu dukungan dari DPR RI dan Pak Presiden RI Joko Widodo. Artinya sudah fifty-fifty,” sebut Bupati.
Untuk itu, Nikson mengajak tim pengkaji untuk semakin menguatkan dokumen-dokumen, sehingga tidak ada celah sedikitpun untuk melemahkan rencana besarnya yaitu berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Raya.
“Niat dan harapan besar saya berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Raya, ketika saya melihat dan mengamati Yogjakarta, Bandung dan Malang begitu luar biasa besarnya karena sebuah Universitas Negeri. Bukan hanya besar, tapi maju dari barbagai aspek perekonomian," paparnya.
Lanjut Bupati, pada tahun 2015 pertama dilontarkannya ide pendiran Universitas Negeri di Tapanuli Utara. Kemudian tahun 2016, Bupati membuat proposal pengusulan Universitas Negeri ke tingkat Menteri dan Presiden. Pada saat itu, sudah ada perintah Presiden Jokowi untuk membahas proposal pengusulan itu.
“Ehhh rupanya, tahun 2017 ada bisikan-bisikan yang membuat rencana ini gagal. Orang Kristen akan demo bila IAKN diubah menjadi Universitas Umum, sehingga ditunda oleh Presiden Jokowi. Tahun 2018 tahun Pilkada dan tahun 2019 menyelesaikan Pilkada. Menurut saya, tahun 2020 lah waktu yang tepat untuk memulai lagi membahas pendirian Universitas Negeri di bumi Tapanuli Raya,” ungkapnya.
“Resiko politik memang banyak saya hadapi ketika memperjuangkan Universitas Negeri ini, tapi kita harus siap menghadapi segala resiko. Tapi menurut saya, apa yang kita lakukan bukan semata-mata untuk menyelamatkan ekonomi kita, bukan sekedar membuat SDM kita unggul, tapi juga menyelamatkan kekristenan kita,” sambung Bupati.
Menurutnya, menyelamatkan Kekristenan menjadi sebuah analisa sangat luar biasa. Bupati tidak mau ada aliran-aliran membuat doktrin sendiri, sehingga gereja bisa pecah-pecah.
“Ini yang sangat kita khwatirkan menghapus kekristenan secara konotasi saat IAKN ditransformasi menjadi Universitas Umum,” kata Bupati.
Kemudian akan semakin menumpuk pengangguran-pengangguran tahun demi tahun akan menghilangkan doktrin ‘Kasihilah Sesamamu’.
“Kita perlu fakta-fakta yang akurat untuk dikombinasikan dalam sebuah dokumen,” katanya.
Seperti, lulusan IAKN untuk kenaikan eselon agar bisa mengajar harus sekolah lagi mengambil akta empatnya.
“Apa ini gak menjadi tantangan buat kita, jadi untuk apa ada kampus itu," tanya Bupati seraya menyebutkan viral lulusan IAKN masuk PNS di Sibolga tapi tidak bisa dilantik jadi PNS.
“Inilah yang akan kita cermati dan menjadi tambahan buat kita, bagaimana mengkaji arti pentingnya Universitas Negeri di Tapanuli Raya. Bagaimana kajian tentang IAKN atau Universitas Kristen Negeri Raya tapi tetap dikelola Kemendikti bukan Kementrian Agama," tambahnya.
Selain itu, manejemen resiko harus menjadi bagian kajian. Bahwa apa resiko IAKN kedepan, apa resiko Universitas Negeri Umum kedepan sempat menjadi perdebatan akan banyak masuk Islam ke Tapanuli Raya, akan terjadi islamisasi.
“Bagaimana mungkin terjadi Islamisasi, sementara kita tau sendiri, orang Batak sangat care terhadap keyakinan. Melalui ajaran kasih yang sudah mendarah daging bagi tubuh Kristen dengan membuka jendela ‘Garam dan Terang’, orang bisa melihat toleransi kerukunan antara umat beragama di Tapanuli Utara sangat luar biasa,” kata Nikson.
“Bisa kita bayangkan UNTARA ini akan bisa menyumbang kepada pemimpin yang berjiwa Pancasilais dan berjiwa Nasionalis. Kita bisa bayangkan, kalau orang dari Banten dan Jawa datang kuliah ke Tapanuli Raya. Setelah mereka kuliah, mereka akan melihat gereja menyebar dimana-mana, lapo dimana-mana. Saya pikir ini akan menjadi sebuah pelajaran agar mereka tidak akan alergi melihat salib, gereja atau minoritas,” jelas Bupati.
“Dan kita harapkan dan pasti kita yakini 99 persen ketika mereka pulang kuliah atau ketika mereka sudah menjadi pemimpin di negeri ini. Chemistrynya akan menjadi baik bagi orang Batak. Rumor yang selama mengatakan Islamisasi justru kita balikkan menjadi Strength, karena apa, karena ada garam dan terang. Kita harus membuka diri, Tapanuli Raya harus menjadi jendela bagi keberagaman suku dan agama melalui Universitas Negeri,” imbuh Bupati.
Kondisi saat ini lanjut Bupati, Sumut hanya memiliki empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kalau dikalkulasikan secara detail, penduduk Sumatera Utara sekitar 16 juta penduduk tentu masih bisa berdirinya sebuah Universitas Negeri untuk mengcover Tapanuli Raya, Simalungun, Karo, pecahan Tapsel dan Labuhan Batu Raya.
“Untuk Universitas Negeri yang sudah ada, sudah bisa mengcover kota Medan, Tebing Tinggi, Langkat, Serdang Bedagai dan Deli Serdang. Apalagi kalau nanti ditingkatkan perguruan tingginya masuk Zonasi. Kalau sempat masuk Zonasi, kemanalah anak-anak kita untuk kuliah. Makanya yang kita perjuangkan ini harus cepat dan tepat sasarannya,” kata Nikson.
Maka tugas-tugas yang harus segera ditingkatkan adalah menggali sedalam-dalamnya apa yang bisa menjadi analisis sedetail mungkin. Artinya, ketika nanti ekspos, hal terkecilpun sudah bisa dijawab.
Terkait adanya pro dan kontra dalam pendirian Universitas Negeri, Nikson mengatakan, sebuah keputusan ataupun kebijakan pasti ada pro dan kontra.
“Tapi saya yakin, bila mereka tau berdirinya Universitas Negeri akan melepaskan kita dari kebodohan dan kemiskinan bahkan trigger percepatan pertumbuhan ekonomi di Tapanuli Raya, kedepannya akan baik-baik saja,” tambahnya lagi.
Nikson yakin dengan dukungan Ketua MPR, Ketua DPD, DPRDSU, elemen gerakan mahasiswa, kaum milenial Garda Muda Tapanuli Utara, Ketua Badan Koordinasi HMI Sumut Alwi Hasbi Silalahi, dukungan Ketua DPD GMNI Sumut Paulus Gulo, pengurus DPP GMKI dan elemen lainnya akan jadi modal kuat mendirikan Universitas Negeri di Tapanuli Raya.
“Dukungan kepada kita terus mengalir dan mendesak agar segera berdiri UNTARA, itu akan jadi modal melengkapi dokumen transformasi IAKN menjadi Universitas Negeri demi kemajuan Tapanuli Raya," pungkas Bupati Taput Nikson Nababan. (als)
BACA JUGA: Picu Peningkatan Perekonomian, DPRDSU akan Berikan Rekomendasi Pendirian UNTARA





Comments
Leave a Comment