Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. PALAPA POS/Istimewa

BEKASI - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) bersama sejumlah instansi terkait tengah menindaklanjuti keterlibatan agen penyalur tenaga kerja domestik dalam kasus kerja paksa sebanyak 300 mahasiswa Indonesia di Taiwan.

"Apakah ada keterlibatan agen dari Indonesia, itu yang sedang kami cek," kata Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri di Bekasi.

Pernyataan itu disampaikannya usai memberi pembekalan kepada 9.296 angkatan kerja yang menjadi peserta Pelatihan Berbasis Kompetensi di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Cevest Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/1/2019).

Hanif sudah mengecek langsung kebenaran kabar tersebut dari Kamar Dangan dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan.

Menurut Hanif, ada pihak yang sengaja memanfaatkan kerja sama antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) dan sejumlah Universitas di Taiwan dalam kemunculan kasus tersebut.

"Ternyata memang ada kasus itu. Namun, oleh Kementerian Luar Negeri telah ditutup sampai kasusnya selesai," katanya.

Hanif berpendapat bahwa kasus mempekerjakan secara paksa sebanyak 300 mahsiswa Indonesia dalam bisnis pengemasan lensa kontak di Taiwan murni sebagai kasus penipuan.

"Kasus ini harus dipidanakan. Ada pihak tertentu yang sengaja manfaatkan kerja sama itu di luar prosedur. Yang terlibat harus ditindak," katanya.

Saat ditanya wartawan apakah seluruh mahasiswa yang didominasi kalangan perempuan itu akan dipulangkan ke Indonesia, Hanif mengatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu bersama instansi terkait.

"Apakah mahasiswa yang menjadi korban ini akan dipulangkan atau tidak, akan ditelusuri dahulu," katanya.

Sebelumnya, diberitakan oleh media lokal Taiwan bahwa ada 300 pelajar Indonesia yang dipaksa kerja selama 40 jam sepekan di salah satu pabrik lensa kontak di negara setempat. Akibat dari laporan ini, perekrutan dan pengiriman mahasiswa skema kuliah-magang ke Taiwan dihentikan sementara.

Taiwan News menurunkan laporan adanya enam universitas Taiwan yang mengirim mahasiswa asing untuk bekerja di pabrik tersebut. Mahasiswa asing ini berasal dari negara-negara yang termasuk dalam kebijakan NSP atau New Southbound Policy. Indonesia merupakan salah satu negara target.

Dalam laporan itu disebutkan ada 300 pelajar Indonesia di bawah usia 20 tahun yang terdaftar di Universitas Hsing Wu melalui jasa agen. Politikus lokal Ko Chih-en mengatakan bahwa para pelajar hanya dibolehkan mengikuti kelas dua hari sepekan dan satu hari libur.

Empat hari lainnya digunakan untuk bekerja di pabrik pengemasan 30.000 lensa kontak dalam satu sif kerja selama 10 jam. (ant)

Comments

Leave a Comment

Berita Lainnya

PT. Mahaka Visual Indonesia Siap-siap Dipanggil Disnaker

KABUPATEN BEKASI - Setelah sekian lama tidak ada kejelasan mengenai kasus dugaan pemutusan sepihak terhadap karyawan Go Wet Waterpark, Dinas

Ampun... Solihin Ditinggal Kader PPP Dukung Paslon Tri Adhianto- Harris

KOTA BEKASI – Kader dan pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menyampaikan selamat tinggal kepada Ketua DPC Solihin saat ini mencalonkan diri jadi wakil walikota n

Usai Deklarasi, Tri Adhianto Kunjungi Warga Terkena Banjir

KOTA BEKASI - Masyarakat Bekasi Jaya, Kota Bekasi, resmi menyatakan dukungan untuk pasangan calon Wali Kota Bekasi dan Wakil Wali Kota Bekasi nomor 3, Tri Adhianto dan Abdul H

Calon Wali Kota Tri Adhianto Wakafkan Tanah untuk Gedung Aswaja Center

KOTA BEKASI - Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dengan warga dan komunitas, calon Wali Kota Bekasi nomor urut 3 Tri Adhianto menghadiri pengajian Ahlussunnah wal Jama&#

Tri Adhianto Tegaskan Komitmen Birokrasi Bebas dari Korupsi dan Tepis Tudingan Tak Berdasar

KOTA BEKASI - Calon Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan tekadnya membangun Kota Bekasi yang bersih, transparan, dan bebas dari korupsi.

<

KPU Kabupaten Bekasi Akan Gelar Debat Kandidat

KABUPATEN BEKASI - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bekasi akan menggelar debat kandidat Calon Bupati pada Minggu (3/11/2024) mendatang.