Petugas medis menggunakan APD lengkap saat berada di ruangan penanganan di RSUD Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. PALAPAPOS/Hengki Tobing
TAPANULI UTARA - Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarutung Janri Ayogie Nababan menuliskan pesan pada akun media sosial RSUD Tarutung terkait penanganan Covid 19. Janri menuliskan, Covid-19 tidak hanya mematikan bagi kesehatan manusia, juga mempengaruhi ekonomi suatu negara.
Para dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya telah menjadi pahlawan ditengah merebaknya Covid-19. Berada digarda terakhir bagi penderita Covid-19, para tenaga medis secara langsung berinteraksi dengan pasien positif terjangkit Covid-19.
"Untuk resiko terpapar sudah pasti, walaupun dengan memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Namun kami harus mengedepankan sisi kemanusiaan," kata Janri dalam tulisan tersebut.
Dijelaskan juga, petugas medis dan pegawai bertugas di RSUD Tarutung selaku RSUD penanganan Covid-19, juga dihadapkan dengan beban psikologis sangat berat. Contohnya, tidak bisa pulang menghadap keluarga. Kalaupun pulang, dihadapkan dengan stigma, dimana masyarakat belum sepenuhnya bisa menerima keberadaan tenaga kesehatan dan pekerja kesehatan/RS di lingkungan tempat tinggalnya.
"Bahkan hal itu bukan hanya dialami oleh petugas kesehatan khusus yang menangani pasien Covid-19. Tetapi seorang petugas cleaning service sekalipun yang bekerja di Rumah Sakit tidak diterima di lingkungannya karena bekerja di Rumah Sakit," papar Janri.
Lanjut Janri, petugas kesehatan memiliki resiko sangat tinggi terhadap penularan penyakit dari pasien ditanganinya, terlebih Covid-19. Namun, kata Janri, tenaga medis dan pegawai di lingkungan RSUD Tarutung tidak butuh kata-kata pujian. Tenaga medis hanya butuh penyemangat sebagai imun tubuh dalam bekerja, dan menghargai hasil kerja mereka.
"Rasa takut jelas ada pada kami. Namun rasa takut itu ditanam dalam-dalam demi menjalakan tugas kemanusian ini. Bahkan rasa takut itu ditendang jauh-jauh dengan harapan pasien sembuh, tersenyum dan kembali kekeluarga," kata Janri.
Ditambahkan, persoalan dihadapi bukan hanya itu saja. Hal lainnya saat masyarakat tidak menerima keluarganya di didagnosa Covid-19 juga kasus sering dijumpai. Makian dan kemarahan, belum lagi pasien meminta perlakuan istimewa dalam penanganan Covid. Padahal, lanjutnya, pihaknya sudah bekerja sesuai protap telah diberikan Pemerintah.
"Tidak ada lebih dan kurang. Jangan samakan perawatan Covid dengan pasien biasa. Penerapan telemedicine sudah hal yang biasa dalam Covid. Tidak ada lagi seperti dulu ada pertemuan rutin dokter dan pasien, pemantauan dan pengobatan kami lakukan dengan ketat. Jangan ada lagi pembohongan tidak diperhatikan, tidak dikunjungi dokter, semua menyalahkan dokter, semua menyalahkan RS, tapi semua itu tetap kami dihadapi dengan senyum, senyum, dan senyum," ucapnya.
Terakhir, Janri mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama melawan Covid-19 dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang dibuat Pemerintah.
"Karena Covid-19 tidak memandang jabatan, umur, dan ketokohan seseorang di masyarakat. Covid itu nyata. Janganlah sia-siakan perjuangan kami, dan kami juga manusia yang butuh istirahat, kumpul dengan keluarga, bersosialisasi dan kami juga mau berumur panjang," tulis Janri Nababan mengakhiri. (eki)
Editor: Oloan Siahaan





Comments
Leave a Comment